Filed under: Tak Berkategori
| TNI ANGKATAN LAUT |
Jakarta, Endonesia — TNI Angkatan Laut dan Lapan kemarin menandatangani MoU untuk bersama-sama membuat peluru kendali. Program persenjataan tersebut perlu dijalankan agar Indonesia tak bergantung pada senjata buatan luar negeri. Diharapkan rudal tersebut sudah bisa melesat dari kapal AL pada 2006.
”Saat ini kita sangat tergantung pada persenjataan dari luar. Sangat berbahaya jika kita tak bisa mengoperasikan senjata hanya karena kita sedang diembargo. Rudal yang kita akan buat ini hanya untuk keperluan pertahanan saja,” kata KASAL Laksamana Bernard Kent Sondakh, kemarin.
Menurut Ketua Lapan Mahdi Kartasasmita, pada tahap awal upaya pengembangan rudal itu akan mendayagunakan keahlian Lapan dalam membuat roket. Lapan pertama kali berhasil meluncurkan roketnya 14 Agustus 1964, saat Indonesia masih di bawah Soekarno. Roket pertama itu dinamai Kartika.
”Kami jadwalkan kita sudah bisa meluncurkan rudal itu dari kapal AL pada 2006,” kata Mahdi.
Program pembuatan rudal itu akan menelan biaya Rp 25 miliar. Yang akan dibuat adalah rudal permukanan-ke-permukaan yang mampu menjangkau jarak 20 mil laut. Hulu ledaknya akan dibikin mampu menembus dinding besi.
Menurut KASAL, selain Lapan, program pembuatan rudal juga akan melibatkan lembaga lain yang terkait dengan industri pertahanan. Termasuk PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad, LIPI, dan Dewan Elektronik Nasional.
Pertahanan Indonesia sendiri dirasa lumpuh sejak AS memberlakukan embargo senjata selepas tragedi Santa Cruz, Timor Timur, 1992. Embargo makin diketatkan ketika terjadi tindak kekerasa pasca referendum. Sejak itu pemerintah Inggris pun ikut mengembargo. Meski yang terkena embargo adalah Angkatan Darat, dampaknya dirasakan juga oleh AU dan AL.
Gara-gara embargo itu pula TNI konon tak bisa beraksi dari udara ketika bencana tsunami terjadi. Hercules C-130 banyak yang rusak. Spare-part tak ada karena embargo. Untunglah pemerintah AS akhirnya bersedia memberikan bantuan spare-part senilai 1 juta dolar sebagai bagian dari paket bantuan tsunami.
Apesnya, sparepart bantuan tsunami itu dikirim lewat laut. Walhasil, baru pekan ini kiriman sampai dan mulai dipasang di Hercules tua yang dibeli pemerintah Indonsia 20 tahun lalu. © ant/rtr
Tinggalkan sebuah Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar